TEXAS | CHARIOS.ID — Apple baru saja merilis perangkat smartphone teranyarnya, salah satunya ialah iPhone 18 Pro Max yang hadir dengan kemampuan baru yakni bisa memproses AI. Kemampuan tersebut bukan sekadar tambahan fitur, melainkan bagian dari cara Apple merancang iPhone generasi terbaru. Di baliknya ada A20 Pro, chipset yang dirancang sejak awal untuk membuat AI bekerja lebih banyak langsung di perangkat.
Apple membekali A20 Pro dengan dua Neural Engine 16-core yang jika digabungkan setara dengan 32 core Neural Engine. Namun, Neural Engine bukan satu-satunya pemain. CPU dan GPU juga memiliki Neural Accelerator yang ikut menangani beban kerja AI.
Artinya, Apple tidak menaruh seluruh pekerjaan AI pada satu mesin. Beban komputasi bisa dibagi sesuai kebutuhan, membuat pemrosesan lebih efisien. Strategi ini semakin penting ketika AI mulai masuk ke berbagai bagian iPhone, bukan hanya chatbot atau aplikasi khusus.
Salah satu manfaatnya bisa dirasakan dari cara iPhone mengolah foto. Ketika pengguna menekan tombol kamera, ponsel harus mengenali objek, membaca pencahayaan, menggabungkan data gambar, lalu menentukan warna dan detail terbaik dalam hitungan detik. Sebagian proses tersebut membutuhkan kemampuan AI yang cukup besar.
Chipset A20 Pro ini juga mendapat peningkatan bandwidth memori hingga 50 persen. Angka ini mungkin terdengar kalah menarik dibanding jumlah core Neural Engine, tetapi justru sangat penting untuk AI. Model pembelajaran mesin harus terus memindahkan data dalam jumlah besar antara memori dan unit pemrosesan. Semakin lancar alirannya, semakin kecil kemungkinan pemrosesan menjadi hambatan.
Apple juga membawa pendekatan yang lebih menarik pada sisi privasi. Dengan kemampuan pemrosesan langsung di perangkat, sejumlah tugas Apple Intelligence tidak perlu mengirim seluruh data pengguna ke server. Respons pun bisa lebih cepat karena tidak selalu bergantung pada koneksi internet.
Ketika kebutuhan komputasi terlalu berat untuk ditangani iPhone, Apple memiliki Private Cloud Compute untuk mengambil alih pekerjaan tersebut. Jadi, iPhone tidak harus memilih antara AI lokal atau cloud. Keduanya bisa bekerja sesuai kebutuhan.
Yang menarik, sebagian besar kemampuan ini kemungkinan justru tidak akan terlihat sebagai fitur AI. Pengguna cukup mengambil foto, mengetik, mencari informasi atau menggunakan berbagai fungsi iPhone seperti biasa. AI bekerja di belakang layar, mengolah data dan mengambil keputusan tanpa harus terus-menerus diberi label “AI”.
Di sinilah A20 Pro menjadi penting. Apple tidak sekadar menambahkan AI ke iPhone melalui software, tetapi mulai membangun kemampuan tersebut dari level chipset, memori dan arsitektur pemrosesan.
Persaingan smartphone kelas atas pun perlahan berubah. Performa tidak lagi hanya bicara soal kecepatan CPU, jumlah megapiksel kamera atau skor benchmark. Pertanyaannya mulai bergeser: seberapa cepat ponsel mampu memproses AI, seberapa efisien konsumsi dayanya, dan seberapa banyak pekerjaan dapat dilakukan tanpa mengirim data pengguna ke cloud.
Jika arah ini terus berlanjut, A20 Pro bisa menjadi salah satu fondasi penting bagi iPhone generasi berikutnya—ketika AI bukan lagi fitur tambahan, melainkan bagian dari cara sebuah smartphone bekerja.


