Rabu, 7 Oktober 2026
Charios.ID Mengawal Fakta Menuju Masa Depan
Sejarah

Jejak Galunggung yang Mulai Sunyi

Galunggung tidak kekurangan warisan. Yang mungkin mulai langka adalah orang yang mampu membaca warisan tersebut sebagai sebuah cerita.

CHARIOS.ID — Galunggung selama ini lebih sering dikenal melalui gunung, kawah dan lanskap alamnya. Namun di balik bentang vulkanik tersebut terdapat lapisan sejarah dan kebudayaan yang tidak kalah penting.

Di Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya, sejumlah jejak masa lalu masih dapat ditemukan. Bentuknya beragam: situs sejarah, benda pusaka, manuskrip, sumber air hingga kawasan yang memiliki nilai budaya.

Sebuah penelitian Cahya Darmawan dan Siti Fadjarajani dari Universitas Siliwangi memetakan 12 objek budaya berwujud (tangible) di kawasan Geopark Galunggung, Kecamatan Leuwisari. Di antaranya benda pusaka di Museum Galunggung Batu Ampar, mushaf kitab kuno, bambu unik, Museum Galunggung dan Museum Malik Al-Hindi, Geger Hanjuang, Talaga Manggung, Rumantek, Batu Sanghyang, Candi atau Parigi, Kubur Keramat, Cidayang dan kawasan Batu Ampar.

Masing-masing menyimpan cerita berbeda. Persoalannya, tidak semuanya berada dalam kondisi yang sama. Ada yang masih dirawat dan dikembangkan sebagai ruang edukasi, tetapi ada pula yang mulai kehilangan bentuk, penanda, bahkan fungsi historisnya.

Geger Hanjuang dan Ingatan Galunggung

Salah satu yang penting adalah Geger Hanjuang di Desa Linggamulya. Penelitian mencatat situs ini berkaitan dengan keberadaan Kerajaan Galunggung. Prasasti aslinya kini berada di museum di Jakarta, sementara ruang asalnya tetap menyimpan nilai sejarah bagi masyarakat setempat.

Jejak lainnya adalah Talaga Manggung, sebuah sumber air yang dalam cerita lokal dikaitkan dengan tempat pemandian raja-raja. Hingga kini airnya masih dimanfaatkan masyarakat sekitar.

Di sini terlihat bahwa warisan budaya tidak selalu berbentuk artefak. Sebuah sumber air pun dapat menjadi bagian dari memori sejarah.

Ketika Jejak Sejarah Menghilang

Kisah Rumantek menunjukkan persoalan yang lebih serius. Rumantek atau saung galah disebut sebagai bangunan yang dahulu menjadi tempat berkumpulnya para raja. Kini bangunan tersebut sudah tidak ada dan lokasinya berubah menjadi sawah milik pribadi.

Pertanyaannya kemudian sederhana: bagaimana menyelamatkan sejarah ketika bentuk fisiknya sudah hilang?

Salah satu jawabannya adalah dokumentasi. Sejarah, lokasi, cerita masyarakat, foto, peta dan informasi mengenai situs perlu disimpan sebelum pengetahuan tersebut ikut menghilang.

Sebuah bangunan boleh saja tidak lagi berdiri, tetapi ingatan tentangnya masih dapat diwariskan.

Hal serupa terlihat pada Batu Sanghyang. Situs yang berkaitan dengan sejarah Galunggung tersebut disebut dalam penelitian berada dalam kondisi kurang terawat dan belum memiliki penanda sebagai situs budaya.

Padahal, langkah awal pelestarian tidak selalu membutuhkan proyek besar. Sebuah papan informasi yang menjelaskan nama situs, sejarah, lokasi dan nilai budayanya dapat membantu masyarakat mengenali kembali ruang tersebut.

Tradisi yang Berubah

Di Desa Cigadog terdapat Cidayang, sebuah kolam yang juga menyimpan cerita mengenai tradisi masyarakat. Dahulu, sebelum khitan, anak-anak direndam di Cidayang dan kemudian diarak dengan gamelan. Tradisi tersebut kini sudah tidak dilakukan lagi seiring perkembangan zaman dan teknologi.

Perubahan seperti itu merupakan bagian dari dinamika kebudayaan. Tidak semua tradisi harus dipertahankan dalam bentuk yang sama.

Namun, masyarakat tetap perlu mengetahui bahwa tradisi tersebut pernah ada. Sebab ketika sebuah tradisi berhenti, bukan berarti sejarahnya harus ikut hilang.

Museum dan Benda yang Menyimpan Ingatan

Di kawasan Batu Ampar terdapat Museum Galunggung dan Museum Malik Al-Hindi yang menyimpan berbagai benda pusaka, mushaf atau kitab kuno serta bambu unik.

Koleksi benda pusaka yang disebut dalam penelitian antara lain keris Sumirat, keris Jawa, keris Bugis, kujang dan mandau. Museum Malik Al-Hindi juga menyimpan ratusan kitab yang disebut telah berusia ratusan tahun, termasuk Al-Qur’an yang menurut penelitian berusia sekitar 300 tahun.

Benda-benda tersebut bukan sekadar koleksi lama. Di dalamnya terdapat cerita mengenai pengetahuan, tradisi, keagamaan dan perjalanan masyarakat pada masa lalu.

Karena itu, museum tidak semestinya hanya menjadi tempat menyimpan benda. Ia juga dapat menjadi ruang untuk mempertemukan generasi sekarang dengan masa lalu.

Peta yang Menyelamatkan Ingatan

Penelitian tersebut menggunakan observasi, wawancara, dokumentasi dan pemetaan partisipatif untuk mengetahui persebaran objek budaya di Kecamatan Leuwisari.

Pemetaan menjadi penting karena warisan budaya tidak berdiri sendiri. Geger Hanjuang, Batu Sanghyang, Rumantek dan Talaga Manggung berada dalam ruang geografis yang sama dan masing-masing menyimpan cerita yang menjadi bagian dari sejarah kawasan.

Dengan demikian, peta tidak hanya menunjukkan lokasi. Peta juga dapat membantu masyarakat membaca kembali ingatan yang tersebar di sebuah wilayah.

Dari Objek Wisata Menjadi Ruang Ingatan

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa 12 objek budaya tangible di Leuwisari masih membutuhkan pengelolaan, perawatan dan pelestarian lebih lanjut. Penataan kawasan serta penyediaan papan informasi menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan agar keberadaan objek tersebut semakin dikenal.

Namun pelestarian tidak cukup hanya dilakukan oleh pemerintah atau akademisi.

Masyarakat merupakan bagian penting karena merekalah yang hidup berdampingan dengan situs, benda dan tradisi tersebut. Ketika cerita tentang sebuah situs tidak lagi diketahui, benda itu perlahan kehilangan maknanya.

Sebaliknya, ketika cerita terus didokumentasikan, dituturkan dan diwariskan, sebuah situs sederhana dapat berubah menjadi ruang pendidikan sejarah.

Pada akhirnya, yang dipertaruhkan di Leuwisari bukan sekadar keberadaan sejumlah situs dan benda budaya. Yang dipertaruhkan adalah hubungan masyarakat dengan masa lalunya.

Galunggung tidak kekurangan warisan. Yang mungkin mulai langka adalah orang yang mampu membaca warisan tersebut sebagai sebuah cerita.

Dan sebelum cerita itu benar-benar sunyi, ada satu pertanyaan yang layak diajukan:

Apa yang masih kita ingat dari Galunggung, dan apa yang sedang kita biarkan hilang?